Bangun Rumah Beton dalam Hitungan Hari? Bisa!

Tanpa repot mencangkul tanah, tanpa bersusah-susah mengaduk semen untuk membangun konstruksi, sebuah rumah dengan struktur beton dengan kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI), kini bisa dibangun dalam hitungan hari.
Selasa (22/9/15), menjadi hari yang istimewa bagi penduduk desa Tanjung Anom, Mauk, Tangerang. Indocement, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  Habitat for Humanity akan mengganti 11 rumah warga yang terbuat dari gubuk reyot dengan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat)-Indocement.
RISHA adalah rumah knock down hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) bekerja sama dengan Indocement. Rumah ini terbuat dari panel-panel beton yang terbagi dalam tiga kategori sesuai fungsinya yakni panel struktur, panel dinding, serta panel kusen.
Panel-panel ini dipasang sedemikian rupa bak mainan anak-anak Lego, hanya dengan menggunakan mur dan baut. Tanpa semen. Caranya pun cukup mudah dengan mengikuti instruksi yang ada. Bahkan, orang yang awam konstruksi pun bisa membangunnya. Satu rumah tipe 33 diklaim bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari saja.
“Orang yang belum dilatih sama sekali bisa langsung merakit hanya dengan melihat sekali. Kami pernah meminta petani kakao di Pariaman untuk membangun sekolah dan berhasil. Sedangkan penghuni diberikan pelatihan perawatan. Karena perawatan hanya mengecek saja. Jangan-jangan ada baut yang kendor, dan semacamnya. Sebenarnya tidak spesifik,” kata ketua Puslitbang Perumahan dan Permukiman Kemenpupera, Arief Sabaruddin, di Tanjung Anom.
Tak butuh semen untuk membangun rumah. Cukup satukan panel-panel ini dengan baut, Anda bisa mendapatkan rumah berstandar nasional.
Tak butuh semen untuk membangun rumah. Cukup satukan panel-panel ini dengan baut, Anda bisa mendapatkan rumah berstandar nasional.
Arief menjelaskan bahwa RISHA telah dikembangkan sejak 2004 dan telah melalui serangkaian uji coba, sebelum akhirnya diperkenalkan secara luas kepada masyarakat. Panel strukturnya juga didesain untuk menahan beban rumah dua lantai.
(Baca juga: Rumah Sederhana)
“RISHA sudah diuji di lab Puslitbang (Pusat Penelitian dan Pengembangan) pemukiman, di lab yang terbesar di Asia Tenggara. Untuk studi alam sudah dibangun di Aceh, puluhan ribu unit di sana, strukturnya oke, tidak ada masalah. Selama ini kita lihat selama lima tahun tidak ada masalah signifikan,” katanya.
Biaya RISHA ini, menurut Arief, sama dengan biaya pembangunan rumah konvensional. Biaya untuk satu tipe 33 yang dibangun di Tanjung Anom adalah sebesar Rp47 Juta. Namun biayanya bisa lebih murah setelah melewati Break Event Point (BEP). Bagi para produsen RISHA, BEP bisa dicapai setelah melewati produksi ke-500. Setelah itu, harga bisa diturunkan sebesar 35 persen.
“(Sebelum BEP) ada biaya investasi cetakan, peralatan. Jika ini jadi produk massal, saya yakin bisa bersaing. Kita juga pernah bangun sekolah di Garut. Satu konvensional, satu RISHA. Selisih biayanya hampir Rp100 Jutaan. Yang konvensional tiga kelas Rp300 Juta, yang ini hanya Rp200 Juta lebih sedikit,” kata Arief.
Panel struktur, panel dinding, serta panel kusen yang sudah terpasang.
Panel struktur, panel dinding, serta panel kusen yang sudah terpasang.
Pada saat RUMAHCOM berkunjung ke Tanjung Anom, rumah RISHA pertama tipe 33 sudah terlihat bentuknya, struktur-strukturnya sudah dipasang lengkap, beberapa bagian bahkan sudah dipasangi kusen dan dinding. Menurut Arief, proses pembangunan tersebut berlangsung dalam hitungan jam. Tak hanya cepat dan murah, kualitas RISHA juga lebih terjamin sesuai dengan SNI.
“Ini karena kontrol kualitasnya lebih mudah, cukup di satu titik saja (produsen panel). Sementara untuk rumah konvensional lebih susah, harus diperiksa satu per satu,” pria berusia 49 tahun itu menjelaskan.
Solusi backlog perumahanDirektur PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk, Daniel Kundjono Adam, mengakui bahwa RISHA merupakan solusi yang baik bagi kebutuhan rumah masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang kurang mampu. Tak hanya bisa didirikan dengan cepat, standar kualitas RISHA juga terjaga. Menurutnya, RISHA bisa membantu pemerintah dalam mengatasi backlog (kesenjangan jumlah rumah tersedia dengan jumlah keluarga yang membutuhkan) perumahan, yang mencapai 15 juta rumah.
Arief Sabaruddin (ketiga dari kiri) dan Daniel Kundjono Adam (kedua dari kanan) dalam peresmian pembangunan RISHA di Tanjung Anom
Arief Sabaruddin (kedua dari kiri) dan Daniel Kundjono Adam (kedua dari kanan) dalam peresmian pembangunan RISHA di Tanjung Anom
“Kita ingin membuat rumah dengan standar kualitas yang baik. Kami memimpikan rumah dengan standar yang baik untuk rakyat, dan ini rumah instan, kita bisa membantu dengan cepat sekali. Kalau konvensional, standar (kualitas) akan susah (dijaga), kedua, waktu akan lama. Ketiga, biaya jauh lebih mahal,” ujar Daniel.
“Kegiatan di Tanjung Anom dan sejenisnya lebih kepada meningkatkan gerakan membuat rumah yang layak untuk rakyat. Gerakan ini kita harapkan bisa bergulir dan membantu pemerintah mengatasi backlog perumahan,” ia menegaskan.
Warga penerima RISHA adalah mereka yang huniannya dinilai tidak layak huni oleh Habitat for Humanity.
Direktur nasional Habitat for Humanity, James Tumbuan, menjelaskan bahwa bukan hanya desa Tanjung Anom saja yang membutuhkan bantuan. Di kecamatan yang sama, Mauk, sedikitnya ada 500 kepala keluarga yang membutuhkan bantuan rumah layak huni.
“Ada empat desa lain yang membutuhkan bantuan yaitu Kedung Dalam, Marga Mulya, Gunung Sari, dan Sasak,” kata James.
Sejak pertama kali dikembangkan hingga sekarang, RISHA kini sudah berdiri di lebih dari 60 kawasan di seluruh Indonesia.

****sumber : rumah.com

untuk informasi hubungi ke :
CV. Indonusa Abadi
Telp. 081286102166
wa. 081286102166
BBM. 51EF8468